Di Mauritania, terletak di pantai Atlantik, Afrika Barat, terdapat satu suku kecil bernama syinqithy. Suku ini memiliki budaya unik dan luar biasa yang tetap bertahan hingga kini.

Mereka membiasakan anak-anak kecil menghafal Al Qur’an, hadits, syair-syair dan ilmu agama. Tradisi ini menjadikan mereka terkenal sebagai peghafal Al Qur’an yang tak tertandingi. Kemampuan mereka tidak hanya sanggup menghafal Al Qur’an secara utuh dan sempurna, namun kitab-kitab lain yang lebih tebal dan rumit pun mereka hafalkan seperti kitab Al Muwaththa’ (kitab hadits imam Malik yang terdiri atas 1844 hadits) adalah kitab kedua yang mereka hafal setelah Al Qur’an.

Begitu besarnya perhatian meraka terhadap budaya menghafal, sehingga apabila ada seseorang yang tidak melakukannya mereka akan tersisih dari lingkungannya. Misal, seorang anak laki-laki yang berusia 12 tahun tetapi belum hafal Al Qur’an, ia akan dilarang keluar rumah karena hal ini merupakan aib bagi keluarganya dan dia pun akan malu bila bergaul dengan teman-temannya.

Budaya ini juga mereka bawa meskipun mereka tinggal jauh dari Afrika kampung halamannya.Di Madinah, di salah satu sudut masjid Nabawi mereka punya tempat tersendiri untuk berkumpul. Disana mereka mendengarkan hafalan,bertukar syair-syair ilmu, saling menasehati dan menyimak.

Sungguh tradisi yang luar biasa.
Kita sebagai orang tua nampaknya perlu mengidentifikasi warisan baik apa yang telah kita terima dari orangtua kita dan mulai memikirkan apa yang dapat kita wariskan bagi anak-anak kita